Banyuwangi – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 di Jalan Veteran, Taman Blambangan, Banyuwangi, Sabtu (18/7/2026). Menurut Khofifah, BEC menjadi bukti budaya lokal mampu menembus panggung global melalui kreativitas dan inovasi.
Pembukaan BEC turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani serta Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Indonesia Zita Anjani. Ribuan masyarakat serta wisatawan domestik dan mancanegara memadati lokasi untuk menyaksikan karnaval budaya tahunan tersebut.
Khofifah mengatakan BEC telah berkembang menjadi salah satu ikon budaya Indonesia yang memadukan tradisi, kreativitas, dan inovasi dalam satu pertunjukan.
“Kita bisa melihat semangat from local to global begitu kental disajikan dalam kekuatan budaya, inovasi, dan kreativitas masyarakat Banyuwangi yang dikemas lewat Banyuwangi Ethno Carnival,” kata Khofifah dalam keterangannya, Minggu (19/7/2026).
Menurutnya, BEC juga menjadi contoh kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, budayawan, seniman, hingga media.
“Mudah-mudahan ini menjadi bagian dari penguat seluruh institusi pentahelix di Banyuwangi, Jawa Timur, hingga Indonesia,” ujarnya.
Tahun ini, BEC memasuki penyelenggaraan ke-14 dengan mengusung tema “Perang Bayu: The Great War of Blambangan”. Tema tersebut mengangkat kisah sejarah Perang Bayu sebagai simbol keberanian, keteguhan, pengorbanan, dan semangat menjaga martabat budaya.
Khofifah menilai sejarah tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga sumber nilai bagi generasi masa kini.
“Sejarah bukan hanya kumpulan peristiwa masa lalu. Sejarah merupakan sumber nilai yang membantu kita memahami siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan ke arah mana kita akan melangkah,” tuturnya.
Ia mengajak masyarakat terus melestarikan sekaligus mengembangkan warisan budaya melalui karya kreatif. Menurutnya, setiap kostum, musik, hingga koreografi dalam BEC lahir dari proses riset, keterampilan, dan kreativitas para seniman.
“Inilah kekuatan ekonomi kreatif. Warisan sejarah dan budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diolah menjadi karya yang bernilai edukasi, estetika, sosial, dan ekonomi,” katanya.
Khofifah menambahkan penyelenggaraan BEC juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Manfaatnya dirasakan pelaku UMKM, sektor kuliner, perhotelan, transportasi, jasa perjalanan, fotografer, desainer, hingga berbagai subsektor ekonomi kreatif lainnya.
Ia berharap BEC terus menjadi ruang untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mengangkat posisi Banyuwangi dan Jawa Timur sebagai destinasi budaya unggulan di Indonesia.
“Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar, aman, dan terus memberikan inspirasi bagi kemajuan budaya dan peradaban dari Banyuwangi untuk Indonesia dan dunia,” ucapnya.
Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, panitia, seniman, budayawan, komunitas, pelaku usaha, serta seluruh masyarakat yang terlibat dalam penyelenggaraan BEC 2026.
“Semoga Banyuwangi terus melejit, terus berkemajuan, dan para pelaku industri kreatif semakin mampu membangun sinergi from local to global melalui Banyuwangi Ethno Carnival,” tutupnya.
Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Indonesia Zita Anjani menilai Banyuwangi Ethno Carnival telah menjadi rujukan penyelenggaraan festival budaya di Indonesia.
“Ini merupakan contoh sekaligus arah kompas ketika kita ingin menyelenggarakan event karnaval. Banyuwangi adalah kiblatnya. Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Yoyok
