Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memastikan proses penjaringan calon siswa Sekolah Rakyat (SR) Tahun Ajaran 2026/2027 masih berlangsung. Karena itu, jumlah calon peserta didik di 18 SR permanen maupun 10 SR rintisan belum dapat dipastikan lantaran pendataan dan verifikasi masih berjalan di masing-masing kabupaten/kota.
Khofifah menjelaskan, penjaringan calon siswa dilakukan oleh sumber daya manusia (SDM) Program Keluarga Harapan (PKH) bersama Dinas Sosial (Dinsos) kabupaten/kota. Seluruh pihak saat ini terus mengoptimalkan proses tersebut agar kuota peserta didik, khususnya di 18 SR permanen, dapat terpenuhi.
“Penjaringan calon siswa SR masih terus berlangsung. Bersama SDM PKH dan Dinsos kabupaten/kota, kami terus melakukan pendampingan sekaligus sosialisasi kepada keluarga calon siswa agar mereka memperoleh pemahaman yang utuh mengenai penyelenggaraan Sekolah Rakyat, khususnya konsep pendidikan berasrama,” ujar Khofifah, Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, pendampingan tidak hanya difokuskan pada pemenuhan persyaratan administrasi. Orang tua juga diberikan pemahaman mengenai sistem pembelajaran, pola pengasuhan, pembinaan karakter, hingga berbagai fasilitas yang akan diterima peserta didik selama menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.
Sebagai upaya memperluas pemahaman masyarakat, Kementerian Sosial (Kemensos) RI juga menggelar kegiatan Open House Sekolah Rakyat. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada calon siswa dan orang tua untuk melihat secara langsung sistem pendidikan yang diterapkan, sekaligus menyaksikan perkembangan peserta didik SR rintisan yang telah berjalan sejak 2025.
Melalui kegiatan itu, calon siswa beserta orang tua dapat melihat berbagai capaian peserta didik, mulai dari peningkatan kemampuan akademik, pembentukan karakter, hingga tumbuhnya rasa percaya diri.
“Pengalaman para orang tua siswa SR rintisan yang merasakan perubahan positif pada putra-putrinya juga turut dibagikan sebagai bentuk edukasi sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap program ini,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Jawa Timur Restu Novi Widiani mengatakan, jumlah calon siswa masih terus bergerak mengikuti proses penjaringan di lapangan. Setelah seluruh tahapan selesai, pemerintah kabupaten/kota akan menetapkan secara resmi daftar peserta didik yang diterima.
“Kami optimistis jumlah tersebut akan terus bertambah seiring masih berlangsungnya proses penjaringan dan pendampingan,” katanya.
Restu berharap kuota peserta didik telah terpenuhi saat memasuki tahapan cek kesehatan gratis, tes DNA, dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dijadwalkan berlangsung pada 14–17 Juli 2026.
Pada Tahun Ajaran 2026/2027, penyelenggaraan Sekolah Rakyat di Jawa Timur ditargetkan berlangsung di 28 lokasi yang terdiri atas 18 SR permanen dan 10 SR rintisan. Total yang disiapkan mencapai 179 rombongan belajar dengan daya tampung 5.370 peserta didik, meliputi 1.680 siswa SD, 1.860 siswa SMP, dan 1.830 siswa SMA yang tersebar di berbagai kabupaten/kota.
Sementara itu, proses pembelajaran di 10 SR rintisan yang telah lebih dulu beroperasi tetap berlanjut pada tahun ajaran baru. Kesepuluh sekolah tersebut melayani total 852 peserta didik, terdiri atas SRMA 25 Lamongan (72 siswa), SRT 5 Ponorogo (110), SRT 7 Probolinggo (91), SRT 51 Bangkalan (83), SRT 49 Sumenep (82), SRMP 29 Pamekasan (50), SRMA 36 Bojonegoro (96), SRMP 14 Batu (149), SRMA 22 Malang (69), dan SRMP 15 Mojokerto (50).
Dinsos Jawa Timur menegaskan hingga kini belum ada penetapan resmi calon siswa Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027. Jumlah peserta didik yang diterima masih berpotensi berubah seiring proses penjaringan, verifikasi, dan penetapan yang masih berlangsung di pemerintah kabupaten/kota.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Yoyok











