Surabaya – Momen wisuda ke-119 Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Rabu (29/4/2026), tak sekadar seremoni akademik. Di balik toga yang dikenakan ratusan lulusan, terselip kisah inspiratif dari Elpanta Tarigan, S.Pd.
Lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) itu merupakan penyandang tunanetra. Namun, keterbatasan penglihatan tak menghalanginya menorehkan prestasi, baik di bidang akademik maupun olahraga.
Elpanta mengaku mengalami tunanetra sejak usia 12 tahun. Kondisi tersebut sempat membuatnya terpuruk. Beruntung, dukungan keluarga dan lingkungan menjadi titik balik dalam hidupnya.
“Awalnya memang berat. Tapi saya percaya selalu ada jalan terbaik. Dukungan orang-orang sekitar membuat saya bisa terus melangkah,” ujarnya.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari sekolah luar biasa di Medan. Dia kemudian merantau ke Surabaya untuk melanjutkan studi di UNESA. Adaptasi budaya sempat menjadi tantangan, terutama dalam hal komunikasi dan interaksi sosial.
Meski begitu, dia merasakan atmosfer inklusif di lingkungan kampus maupun masyarakat Surabaya. Menurutnya, penerimaan masyarakat menjadi faktor penting bagi penyandang disabilitas.
“Di kampus dan di Surabaya, saya merasa diterima. Banyak yang menawarkan bantuan. Inklusivitas itu bukan hanya soal fasilitas, tapi juga sikap,” jelasnya.
Di bidang akademik, Elpanta menuntaskan skripsi berjudul Peran Persatuan Tunanetra Indonesia dalam Peningkatan Keterampilan Sosial Tunanetra. Penelitian itu mengulas kontribusi organisasi dalam mendorong kemandirian penyandang disabilitas.
Menariknya, skripsi tersebut diselesaikan dalam waktu relatif singkat, sekitar empat bulan, dengan memanfaatkan teknologi pembaca layar di laptop.
Tak hanya berprestasi di bangku kuliah, Elpanta juga aktif sebagai atlet catur tunanetra. Dia telah mengikuti berbagai kejuaraan, mulai tingkat kota hingga nasional.
Prestasi lain juga ditorehkannya. Di antaranya, juara 1 lempar lembing tunanetra tingkat provinsi serta medali emas tolak peluru pada ajang Pekan Paralimpik Pelajar.
Atas capaian itu, Elpanta mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi magister (S2). Dia berencana tetap fokus di bidang pendidikan inklusi.
“Saya ingin mendalami konsep inklusi. Bukan hanya fasilitas, tapi bagaimana masyarakat bisa menerima dan berinteraksi,” katanya.
Ke depan, dia bercita-cita kembali ke kampung halamannya di Medan. Dia ingin berkontribusi sebagai pendidik dan mengembangkan pendidikan luar biasa di Sumatera Utara.
Selain itu, Elpanta juga berencana kembali aktif di dunia olahraga setelah sempat vakum demi menyelesaikan studi.
Kisahnya menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi. Dengan tekad dan dukungan, Elpanta mampu membuktikan diri—sekaligus menginspirasi banyak orang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Editor : Yoyok











