FGD MPR di Surabaya Bedah Desentralisasi, Ning Lia: Otonomi Tak Bisa Disamaratakan

Belum ada data penulis & editor

- Author

Selasa, 10 Februari 2026 - 16:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPD RI Lia Istifhama saat acara FGD Kelompok 3 MPR RI di Surabaya.(Dok/Istimewa).

Anggota DPD RI Lia Istifhama saat acara FGD Kelompok 3 MPR RI di Surabaya.(Dok/Istimewa).

Surabaya — Kelompok 3 Badan Pengkajian MPR RI menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Surabaya, Selasa (10/2/2026). Forum ini membedah penguatan desentralisasi dan otonomi daerah untuk mendorong pemerataan kesejahteraan di berbagai wilayah Indonesia.

FGD dihadiri anggota Kelompok 3 Badan Pengkajian MPR RI: Maman Imanul Haq, Kamrussamad, I Wayan Sudirta, Lia Istifhama, dan Sigit Purnomo. Sejumlah akademisi turut memberi pandangan, di antaranya Prof Bagong Suyanto, Prof Nunuk Nuswardani, serta Indah Dwi Qurbani.

Diskusi menyoroti perlunya penguatan kerangka hukum desentralisasi agar otonomi daerah mampu menjawab ketimpangan sosial dan kemiskinan yang masih terjadi di sejumlah daerah.

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan desentralisasi harus memperkuat kemandirian daerah melalui pengembangan potensi lokal. Kebijakan otonomi, kata dia, perlu adaptif dengan mempertimbangkan karakteristik dan kesiapan tiap wilayah.

“Desentralisasi harus mampu menjawab persoalan kemiskinan, termasuk kemiskinan kualitas. Regulasi tidak bisa disamaratakan karena kesiapan mentalitas dan kondisi setiap daerah berbeda,” ujar senator yang akrab disapa Ning Lia.

Ia menilai implementasi sejumlah regulasi otonomi daerah belum berdampak merata. Ada daerah yang mampu mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD), namun masih ada wilayah yang belum merasakan manfaat optimal.

Ning Lia juga mendorong kebijakan yang sensitif terhadap kekhasan wilayah, termasuk pengakuan peran hukum adat dalam menjaga kelestarian lingkungan dan kearifan lokal. Pendekatan ini dinilai dapat memperkuat kemandirian daerah sekaligus mendorong pembangunan berkeadilan.

“Tema hukum adat dan otonomi daerah penting untuk terus dikaji bersama demi kepentingan pembangunan nasional,” tambahnya.

Sementara itu, Prof Nunuk Nuswardani menekankan pentingnya menekan kesenjangan sosial yang tercermin dari indeks ketimpangan. Ia menilai program pembangunan perlu berbasis evaluasi lapangan agar kebijakan tepat sasaran.

BACA JUGA  Refleksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Bangun DPRD Sidoarjo Soroti Daya Beli hingga Lapangan Kerja

“Bantuan harus disesuaikan dengan potensi dan kebiasaan masyarakat setempat agar dapat meningkatkan taraf hidup secara berkelanjutan,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Prof Bagong Suyanto. Menurutnya, penguatan desentralisasi harus selaras dengan dinamika sosial dan kebutuhan riil masyarakat di daerah.

Ketua diskusi Maman Imanul Haq berharap hasil FGD menjadi masukan strategis bagi Badan Pengkajian MPR RI dalam merumuskan rekomendasi kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah.

“Dengan demikian, kebijakan yang dihasilkan mampu mendorong pembangunan yang lebih adil dan merata di seluruh Indonesia,” pungkasnya. (red)

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Puguh DPRD Jatim Tekankan Nasionalisme dan Perjuangan Santri
Raperda Tibumtranmas Linmas Dibahas, Rizza DPRD Sidoarjo Soroti Bullying hingga Gangster Pelajar
Refleksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Bangun DPRD Sidoarjo Soroti Daya Beli hingga Lapangan Kerja
Belajar dari Kasus Tanah Fasum Sidoarjo, Sriatun DPRD Jatim Tekankan Digitalisasi Aset Desa
Ning Lia Apresiasi Transformasi Digital Pengadilan Tinggi Surabaya, Layak Jadi Percontohan Nasional
Gerakan Indonesia ASRI, PC TIDAR Sidoarjo Ajak Anak Muda Peduli Lingkungan Hidup
Dukung Gerakan Indonesia ASRI, DPC Partai Gerindra Sidoarjo Hijaukan Hutan Kota dan Bersihkan Sungai
Hadiri Paripurna Istimewa Hari Jadi ke-81 Jatim, Senator Lia Sebut Jatim Bangunan Politik Humanis
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:20 WIB

Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Puguh DPRD Jatim Tekankan Nasionalisme dan Perjuangan Santri

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:23 WIB

Raperda Tibumtranmas Linmas Dibahas, Rizza DPRD Sidoarjo Soroti Bullying hingga Gangster Pelajar

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:39 WIB

Refleksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Bangun DPRD Sidoarjo Soroti Daya Beli hingga Lapangan Kerja

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Belajar dari Kasus Tanah Fasum Sidoarjo, Sriatun DPRD Jatim Tekankan Digitalisasi Aset Desa

Minggu, 18 Oktober 2026 - 04:10 WIB

Ning Lia Apresiasi Transformasi Digital Pengadilan Tinggi Surabaya, Layak Jadi Percontohan Nasional

Berita Terbaru

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau pelaksanaan khitanan massal dan cek kesehatan gratis (CKG) di Pendopo Kabupaten Pacitan. (Dok. Humas Pemprov)

Pemerintahan dan Kebijakan

Sambut HSN 2026, Khofifah Pastikan Layanan Kesehatan Gratis Menyentuh Warga Pacitan

Jumat, 23 Okt 2026 - 03:31 WIB

Pansus IV DPRD Sidoarjo Bahas Raperda Tibumtranmas, Koordinasi Antar-OPD Jadi Sorotan. (Dok. Syaiful)

Pemerintahan dan Kebijakan

Pansus IV DPRD Sidoarjo Bahas Raperda Tibumtranmas, Koordinasi Antar-OPD Jadi Sorotan

Kamis, 22 Okt 2026 - 23:53 WIB

WhatsApp