Sidoarjo – Pergantian Tahun Baru Jawa yang ditandai dengan datangnya tanggal 1 Suro selalu menjadi momen sakral bagi sebagian masyarakat Jawa. Selain menjadi awal penanggalan Jawa, bulan Suro juga bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriah yang identik dengan refleksi diri dan peningkatan spiritualitas.
Tradisi menyambut tanggal 1 Suro pun dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui ziarah ke makam leluhur. Hal itu pula yang dilakukan Direktur PT MJP, Irmawati Subagio, dengan berziarah ke Kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @irmawati_official, Sabtu (6/6/2026), Irmawati menjelaskan bahwa tradisi tersebut telah menjadi agenda rutin keluarga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur Trah Hamengkubuwono III.
“Bagi masyarakat Jawa, tanggal 1 Suro bukan sekadar pergantian tahun baru. Ini adalah momentum untuk melakukan refleksi diri, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, sekaligus mengenang jasa para leluhur,” ujar Irmawati.
Politikus muda Partai Gerindra Sidoarjo itu menuturkan, pada hari-hari tertentu akses menuju area makam memang hanya diperuntukkan bagi keluarga keraton dan trah terkait. Seluruh prosesi dilakukan dengan pendampingan abdi dalem sesuai tata cara dan adat yang berlaku.
“Setiap tahun kami sowan ke Imogiri sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur Trah Hamengkubuwono II. Pada waktu-waktu tertentu, akses khusus hanya diperuntukkan bagi keluarga keraton dan trah terkait dengan pendampingan abdi dalem sesuai adat yang berlaku,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Irmawati juga mendampingi Agus yang selama ini turut mengikuti rangkaian prosesi ziarah dari tahun ke tahun. Kegiatan itu diisi dengan tahlil dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu.
Menurutnya, tradisi ziarah bukan hanya sebatas kunjungan ke makam leluhur. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
“Bagi kami, tradisi ini bukan sekadar ziarah, melainkan pengingat untuk selalu menghargai asal usul, menjaga nilai-nilai luhur, dan meneruskan warisan kebaikan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Yoyok
Sumber Berita: digitaljatim.com












