Surabaya – Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan udara di Teheran pada 1 Maret 2026 memicu gelombang reaksi dari berbagai tokoh dunia. Peristiwa yang disebut melibatkan militer Amerika Serikat dan Israel itu kembali menempatkan geopolitik Timur Tengah dalam sorotan internasional.
Kabar meninggalnya ulama berpengaruh tersebut disiarkan media resmi Iran pada Minggu (1/3/2026). Sejumlah pemimpin dan tokoh nasional Indonesia pun menyampaikan pernyataan sikap atas peristiwa itu.
Salah satunya Senator DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama. Perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu menyampaikan duka sekaligus keprihatinannya. Selama ini, ia dikenal aktif menyuarakan isu-isu kemanusiaan, termasuk kemerdekaan Gaza.
“Tentu ini menjadi keprihatinan bersama. Kita wajib menghormati semua agama dan para pemuka agama. Beliau adalah salah satu ulama besar di era kontemporer,” ujar Ning Lia dikutip dari lensajatim.id, Selasa (3/3/2026).
Di tengah suasana duka, Ning Lia juga membagikan momen personal yang menyentuh. Ia mengaku bangga saat putranya yang masih duduk di bangku SMP mengunggah kolase foto Khamenei di media sosial sebagai bentuk penghormatan.
Ia kemudian membagikan ulang unggahan tersebut melalui akun Instagram pribadinya. Menurutnya, hal itu menjadi cerminan bahwa nilai empati dan penghormatan terhadap ulama telah tertanam dalam diri anak-anaknya.
“Saya bersyukur anak-anak memiliki kepekaan dan atensi yang sama. Mereka sering mengikuti konten religi dan memahami isu-isu kemanusiaan global, termasuk Palestina,” katanya.
Keponakan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa itu menambahkan sebagai orang tua dirinya kerap menanamkan kesadaran bahwa mereka beruntung lahir di Indonesia yang damai, berbeda dengan anak-anak di wilayah konflik seperti Palestina.
“Ketika anak-anak bisa mengambil hikmah positif dari apa yang diajarkan orang tua, itu kebahagiaan tersendiri,” imbuhnya.
Ning Lia juga menekankan pentingnya Indonesia memperkuat fondasi internal di tengah dinamika global yang kian bergejolak. Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam percaturan internasional.
“Kondisi global adalah bagian dari dinamika peradaban. Fokus kita membangun kekuatan dari dalam, memastikan bangsa tetap kokoh melalui penguatan ekonomi rakyat dan kearifan lokal,” tegasnya.
Ia menilai ketahanan bangsa tidak semata ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga kemandirian ekonomi dan stabilitas sosial yang tumbuh dari akar masyarakat.
“Sebagai informasi, Khamenei memimpin Iran sejak 1989. Selama menjabat, ia menjadi figur sentral dalam politik dan keagamaan Iran, serta dikenal konsisten menyuarakan dukungan terhadap perjuangan Palestina,” imbuhnya.
Di dalam negeri, sosoknya lekat dalam simbol-simbol patriotisme, mulai dari poster hingga mural bertema perlawanan. Ia juga pernah selamat dari percobaan pembunuhan yang menyebabkan cedera permanen pada salah satu lengannya.
“Wafatnya Khamenei kini menjadi perhatian dunia internasional dan menandai babak baru dalam dinamika politik Timur Tengah yang sarat ketegangan,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat











