Tak Sekadar Organisasi, Senator Lia Istifhama Ungkap Fatayat NU sebagai Kekuatan Peradaban di Harlah ke-76

- Reporter

Jumat, 24 April 2026 - 08:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPD RI Lia Istifhama. (Foto: Istimewa)

Anggota DPD RI Lia Istifhama. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Momentum Hari Lahir ke-76 Fatayat NU menjadi refleksi penting atas perjalanan panjang gerakan perempuan muda Nahdlatul Ulama, dari langkah-langkah sunyi menuju kekuatan peradaban yang berdampak luas.

Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menegaskan bahwa Fatayat NU tidak lagi cukup dipahami sebagai organisasi perempuan semata. Lebih dari itu, Fatayat merupakan representasi keteguhan perempuan dalam merawat tradisi sekaligus menjawab tantangan zaman di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

“Fatayat NU adalah ruang perjumpaan antara iman, tradisi, dan keberanian. Ia lahir dari langkah-langkah kecil yang penuh makna,” ujar Ning Lia dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).

Ia menjelaskan, embrio Fatayat NU telah muncul sejak Muktamar NU ke-15 di Surabaya pada 1940. Saat itu, perempuan muda hanya terlibat dalam kepanitiaan, namun dari ruang sederhana tersebut lahir kesadaran besar bahwa perempuan merupakan bagian penting dari denyut umat.

Kesadaran itu berkembang pada periode 1946–1949, ketika perempuan muda mulai masuk dalam struktur Muslimat NU. Di berbagai daerah seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo, hingga Pasuruan, tokoh-tokoh seperti Murthosiyah, Ghuzaimah Mansur, dan Aminah aktif menggerakkan pemudi NU secara terstruktur.

“Dari tangan-tangan mereka, gerakan ini tumbuh. Bekerja tanpa riuh, tetapi berdampak nyata,” imbuhnya.

Tonggak penting terjadi pada 1950 saat Fatayat NU resmi menjadi badan otonom. Sejak itu, gerakan ini berkembang pesat ke berbagai daerah di Indonesia. Penerbitan majalah Melati pada 1951 menjadi simbol bahwa perempuan NU mulai menulis sejarahnya sendiri.

Dalam perjalanannya, Fatayat juga menunjukkan ketangguhan menghadapi dinamika bangsa. Pada era 1960-an, Fatayat membentuk Fatser (Fatayat Serbaguna) sebagai bentuk kesiapan kader, baik secara fisik maupun mental, dalam menjaga ideologi bangsa.

Memasuki era 1970–1980-an, Fatayat NU terus beradaptasi dengan perubahan zaman melalui regenerasi kepemimpinan, perluasan cabang, serta pengembangan potensi kader di bidang seni dan kreativitas tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

BACA JUGA  Nobar Film "Tiba-Tiba Setan" di Ciplaz XXI, Tidar Sidoarjo Perkuat Solidaritas Kader

“Fatayat menunjukkan bahwa modernitas tidak harus meninggalkan tradisi. Justru dari akar itulah kekuatan lahir,” jelas putri KH Maskur Hasyim tersebut.

Pada era reformasi hingga globalisasi, Fatayat semakin memperluas jejaring hingga ke tingkat internasional. Gerakan yang berawal dari ruang-ruang sederhana kini menjadi bagian dari percakapan global terkait perempuan, kemanusiaan, dan keadilan.

Di usia ke-76, Fatayat NU dinilai semakin dekat dengan kebutuhan nyata perempuan. Mulai dari isu kesehatan ibu dan anak, pendampingan korban kekerasan, hingga literasi digital, Fatayat hadir memberikan solusi konkret di tengah masyarakat.

“Fatayat tidak hanya bicara, tetapi bekerja dan memberi dampak langsung,” tegas Ning Lia.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa nilai-nilai Islam menjadi fondasi utama gerakan ini, termasuk prinsip al-muhafadhah ‘ala al-qadim as-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah, yakni menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.

Ia juga menyinggung pentingnya penguatan pemberdayaan perempuan sebagaimana dikemukakan pemikir seperti Nawal El Saadawi dan Fatima Mernissi, yang menekankan pentingnya akses perempuan terhadap pendidikan, kesehatan, dan ruang berpikir kritis.

“Fatayat NU sejalan dengan itu. Pemberdayaan perempuan tidak berarti meninggalkan identitas, tetapi justru menguatkannya,” katanya.

Ke depan, Keponakan Gubernur Jatim Khofifah itu menilai Fatayat NU harus mampu menjawab tantangan zaman dengan memperkuat kepemimpinan perempuan, mencegah kekerasan, serta mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Selain itu, literasi digital dan penguatan ketahanan keluarga juga menjadi agenda penting.

“Fatayat NU harus menjadi inkubator pemimpin perempuan, sekaligus garda depan perlindungan dan pemberdayaan,” ujar lulusan doktoral Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) tersebut.

Ia menambahkan, Fatayat NU memiliki keunggulan sebagai organisasi yang membawa wajah Islam moderat, inklusif, dan berkeadaban, sehingga berpotensi menjadi jembatan peradaban di tingkat global.

BACA JUGA  Setelah Pencarian Intensif, Davin Ditemukan di Bengawan Madiun oleh Tim SAR Gabungan

“Fatayat NU tidak cukup hanya menjadi organisasi perempuan. Ia harus menjadi gerakan ilmu, gerakan sosial, sekaligus gerakan peradaban. Karena ketika perempuan bergerak dengan nilai, pengetahuan, dan keberanian, yang lahir bukan hanya perubahan, melainkan masa depan,” pungkasnya.

Editor : Yoyok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Nobar Film “Tiba-Tiba Setan” di Ciplaz XXI, Tidar Sidoarjo Perkuat Solidaritas Kader
Ning Lia Istifhama Dapat Apresiasi Tokoh Perempuan Jatim 2026, Ini Pesannya soal Demokrasi
Viral Banner Dicium ODGJ Jadi Sorotan, Senator Cantik Ning Lia Istifhama Cerita ke Pak Purnomo
Perempuan Jadi Pemimpin di Era Modern? Ini Strategi Versi Lia Istifhama
Anggota DPRD Jatim Ma’mulah Harun Soroti Peran Perempuan, Dari Politik hingga Kebijakan Publik
Kodifa Jawara Jadi Wadah Ekonomi Difabel di Jatim, Sri Untari: Ini Langkah Nyata Kemandirian
Wakil Ketua DPRD Jatim Sebut Kartini Bukan Sekadar Sejarah, Tapi Inspirasi Perempuan
Lonjakan Kasus Gagal Ginjal, dr Benjamin DPRD Jatim: Waspadai Pola Hidup Tak Sehat

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 08:41 WIB

Tak Sekadar Organisasi, Senator Lia Istifhama Ungkap Fatayat NU sebagai Kekuatan Peradaban di Harlah ke-76

Jumat, 24 April 2026 - 00:44 WIB

Nobar Film “Tiba-Tiba Setan” di Ciplaz XXI, Tidar Sidoarjo Perkuat Solidaritas Kader

Rabu, 22 April 2026 - 18:45 WIB

Ning Lia Istifhama Dapat Apresiasi Tokoh Perempuan Jatim 2026, Ini Pesannya soal Demokrasi

Rabu, 22 April 2026 - 18:37 WIB

Viral Banner Dicium ODGJ Jadi Sorotan, Senator Cantik Ning Lia Istifhama Cerita ke Pak Purnomo

Selasa, 21 April 2026 - 22:08 WIB

Perempuan Jadi Pemimpin di Era Modern? Ini Strategi Versi Lia Istifhama

Berita Terbaru