Surabaya – Puasa Ramadan tak hanya dimaknai sebagai ibadah spiritual kepada Tuhan, tetapi juga memiliki manfaat besar bagi kesehatan mental. Dalam perspektif psikologi, menahan lapar dan dahaga selama berpuasa dapat menjadi sarana melatih pengendalian diri hingga memperkuat ketahanan mental.
Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Psikologi (Fpsi) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Diana Rahmasari saat kegiatan edukasi kesehatan mental dalam acara buka puasa bersama dan pembagian takjil gratis di halaman rektorat Unesa.
“Puasa dapat dipahami sebagai latihan self-regulation atau regulasi diri yang komprehensif. Melalui ibadah ini, seseorang belajar secara sadar menunda dorongan, mengelola impuls, serta mengarahkan perilaku sesuai nilai dan tujuan luhur yang diyakini,” ujar Diana, dikutip dari laman Diskominfo Jatim, Sabtu (7/3/2026).
Menurutnya, kemampuan mengendalikan lapar dan emosi berkaitan erat dengan fungsi eksekutif otak. Proses tersebut melatih kontrol diri seseorang agar semakin kuat dan stabil.
“Kematangan kontrol diri ini beririsan dengan kemampuan emotional regulation, yaitu kecakapan mengelola perasaan agar tetap adaptif meski berada dalam tekanan,” katanya.
Diana menjelaskan puasa juga menjadi sarana meningkatkan distress tolerance, yakni kemampuan bertahan dalam situasi tidak nyaman tanpa bereaksi secara berlebihan.
Di tengah rutinitas yang penuh distraksi, Ramadan juga mendorong munculnya mindfulness atau kesadaran penuh sehingga individu dapat merespons stres secara lebih proporsional melalui refleksi diri.
Secara lebih luas, ia menambahkan Ramadan turut meningkatkan psychological well-being atau kesejahteraan psikologis melalui penguatan relasi sosial.
“Kegiatan berbagi dan ibadah bersama selama bulan suci memperkuat sense of belonging atau rasa keterhubungan sosial yang dalam teori psikologi berperan penting menekan tingkat stres,” jelasnya.
Menariknya, manfaat puasa juga didukung kajian ilmu saraf. Fakultas Psikologi Unesa mengedukasi masyarakat mengenai bagaimana puasa memicu neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak membentuk koneksi baru, serta neurogenesis.
“Proses ini memperkuat sinapsis atau koneksi antar sel saraf yang berdampak pada peningkatan konsentrasi dan ketangguhan otak dalam beradaptasi terhadap tekanan, yang dikenal sebagai neurokompensasi,” imbuhnya.
Sebagai bentuk komitmen terhadap kesejahteraan masyarakat, Fakultas Psikologi Unesa juga mengenalkan layanan Day Care berbasis psikologi perkembangan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara profesional.
“Puasa dapat menjadi sarana penguatan mental yang luar biasa jika dijalankan secara proporsional. Namun bagi individu dengan kondisi psikologis tertentu, konsultasi profesional tetap penting untuk menjaga kesehatan mental secara optimal,” pungkasnya.
Editor : Yoyok











