Surabaya – Anjloknya harga telur ayam di tingkat peternak menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pemprov menilai penyebab turunnya harga tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan besarnya keuntungan pedagang perantara (middleman), melainkan dipengaruhi berbagai faktor di sepanjang rantai distribusi.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan, Pemprov tidak ingin menyederhanakan persoalan hanya dengan memanggil para pedagang perantara. Menurutnya, penyelesaian harus dilakukan dengan melibatkan seluruh pelaku usaha, mulai dari peternak, distributor, hingga pihak terkait lainnya.
“Harga acuan dari Kementerian Pertanian sekitar Rp 26.500 per kilogram, sementara harga di pasar justru berada di kisaran Rp 25.000. Artinya, persoalannya tidak sesederhana margin pedagang. Karena itu, semua pihak harus duduk bersama untuk mencari solusi,” ujarnya usai rapat paripurna di DPRD Jatim, Senin (6/7/2026).
Wagub Emil mengungkapkan, salah satu faktor yang memicu jatuhnya harga telur adalah melimpahnya pasokan (oversupply). Berdasarkan informasi yang diterima Pemprov Jatim, sebagian peternak memperpanjang masa produksi ayam petelur hingga sekitar 120 minggu. Padahal, masa produksi ideal ayam petelur berkisar 90 minggu.
“Perpanjangan masa produksi tersebut membuat pasokan telur di pasar meningkat sehingga harga di tingkat peternak terus tertekan. Kondisi itu juga berdampak pada turunnya harga ayam telur karena pasokan yang melimpah,” jelasnya.
Menurut Emil, fenomena penurunan harga telur tidak hanya terjadi di Jawa Timur, tetapi juga di berbagai daerah lain di Indonesia. Namun, sebagai salah satu sentra produksi telur nasional, Jawa Timur memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menjaga keberlangsungan usaha para peternak.
“Karena Jawa Timur merupakan salah satu sentra produksi telur nasional, kami harus bekerja lebih keras untuk melindungi peternak,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Yoyok











