Surabaya – Ada dua sapaan yang cukup lekat dengan Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, yakni “Senator Cantik” dan sosok yang humble. Dua sebutan tersebut muncul dari latar yang berbeda, tetapi sama-sama menggambarkan cara Lia berinteraksi dengan masyarakat.
Sebutan “cantik” awalnya dikenal sebagai identitas yang kemudian dimaknai melalui tagline CANTIK, yakni akronim dari Cerdas, Inovatif, dan Kreatif.
Sementara itu, sebutan “humble” muncul dari kesan masyarakat terhadap gaya komunikasi dan cara Lia hadir di tengah warga.
Kiprah Ning Lia pun tidak hanya dikaitkan dengan persoalan penampilan. Keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa itu menggunakan istilah CANTIK sebagai pesan bahwa perempuan dapat hadir di ruang publik dengan kapasitas, gagasan, dan kreativitas.
Pengamat Politik Mubarok mengatakan makna tersebut menjadi bagian dari pesan yang dibawa Lia untuk mendorong perempuan agar tidak hanya dinilai dari penampilan, tetapi juga kemampuan dan kontribusinya di ruang publik.
“Jauh sebelum menjadi senator, identitas tersebut sebenarnya sudah muncul dalam perjalanan Ning Lia sebagai aktivis perempuan. Hingga akhirnya kini menjadi tagline dan sosok Ning Lia yang memang cantik dan dekat dengan masyarakat,” kata Mubarok dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).
Menurut Mubarok, gagasan CANTIK juga telah diperkenalkan Lia ketika maju sebagai calon anggota DPD RI. Tagline tersebut menjadi bagian dari pesan mengenai pentingnya perempuan mengambil peran di ruang publik.
“Cantik bisa dimaknai sebagai Cerdas, Inovatif, dan Kreatif. Jadi bukan soal rupa, tetapi cara berpikir dan bersikap dalam melayani masyarakat,” ujar Lia.
Sapaan “cantik” juga kerap muncul secara spontan ketika Lia menghadiri kegiatan masyarakat. Salah satunya saat kegiatan bakti sosial di Kutisari, Surabaya.
“Ning Lia cantik banget,” teriak salah seorang warga ketika Lia memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut.
Warga lainnya, Sri Lestari, mengatakan istilah CANTIK yang merupakan singkatan Cerdas, Inovatif, dan Kreatif memang menjadi tagline Lia. Namun, menurut dia, sapaan tersebut juga sesuai dengan kesan yang dirasakan ketika bertemu langsung.
“Cantik dan baik orangnya. Selalu ramah dan senyum di mana pun,” kata Sri.
Selain sebutan “cantik”, karakter lain yang disebut melekat pada Lia adalah humble. Kesan tersebut muncul dari pengalaman masyarakat yang berinteraksi langsung dengannya.
Salah satunya terlihat ketika Lia berbaur dengan masyarakat Wonocolo, Surabaya. Dalam sebuah kegiatan bersama warga, Lia bahkan terlihat berjalan tanpa alas kaki atau nyeker.
Tokoh masyarakat Wonocolo, H Muhaimin, menggambarkan Lia sebagai sosok yang sederhana dan tidak membuat jarak dengan masyarakat.
Pada September 2026, Lia juga mendatangi mahasiswa baru di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana informal dan dialogis, layaknya percakapan antara kakak dengan adik mahasiswa.
Sebelumnya, pada Maret 2026, Lia bersilaturahmi dengan PC Fatayat NU Kota Surabaya. Pertemuan itu membahas sejumlah isu, termasuk pemberdayaan perempuan, dalam suasana yang hangat dan dialogis.
Kesan serupa juga terlihat dalam aktivitas Lia sebelum maupun setelah menjadi anggota DPD RI. Ia disebut tetap mempertahankan kebiasaan turun langsung dan menyapa masyarakat setelah memperoleh mandat sebagai senator.
Dalam sejumlah kunjungan di Jawa Timur, Lia mendatangi berbagai wilayah untuk menyerap aspirasi masyarakat, termasuk terkait pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan perempuan dan anak.
Aspirasi yang dihimpun tersebut kemudian dibawa ke ruang pembahasan di DPD RI.
Pola komunikasi tersebut membuat istilah “humble” semakin sering disematkan kepada Lia. Ada pula ungkapan Jawa “wani mudhun ngisor”, yang secara sederhana menggambarkan keberanian untuk turun dan mendekat kepada masyarakat.
“Saya pernah lihat Ning Lia nyeker waktu jalan. Ramah dan suka menyapa dulu,” kata Wiwik Setyowati, salah satu warga Gresik.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Syaiful Hidayat