Pasuruan – Ribuan anak dari Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-Kanak (TK), dan Raudhatul Athfal (RA) se-Kabupaten Pasuruan memeriahkan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Lapangan Yonkav 8 Beji, Kamis (23/7/2026). Beragam penampilan mereka disaksikan langsung Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo bersama Bunda PAUD Kabupaten Pasuruan Merita Rusdi Sutejo.
Rangkaian acara diawali dengan lomba finger painting, dilanjutkan tari massal yang melibatkan 70 anak KB dan 10 anak TK. Suasana semakin semarak dengan parade budaya yang diikuti perwakilan KB, TK, dan RA dari 24 kecamatan di Kabupaten Pasuruan.
Tak hanya itu, panggung kreativitas anak juga menampilkan drama inklusi dari TK Al Ghozali Prigen, permainan tradisional oleh TKN Pembina, duet vokal TK Al Wardah Pandaan, gerak dan lagu dari peserta KB, hingga atraksi pencak silat dari TK Ummatul Wahidah Bangil.
Seluruh penampilan tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Rusdi. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan, mulai dari peserta didik, guru hingga para orang tua.
“Terima kasih kepada semua yang berperan pada hari ini. Adik-adik yang menampilkan tarian yang bagus dan lucu, para wali murid, dan guru saya ucapkan terima kasih banyak,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Rusdi menegaskan peringatan HAN 2026 harus menjadi momentum bagi para orang tua untuk semakin memperkuat pendampingan terhadap anak, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, tantangan pengasuhan saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Orang tua tidak cukup hanya mengawasi aktivitas anak di rumah, tetapi juga harus memastikan penggunaan perangkat digital tetap berada dalam batas yang aman.
“Tantangan kita sebagai orang tua di zaman sekarang luar biasa. Dulu anak di rumah kita awasi selesai, sekarang kita harus lebih intens mengawasi anak-anak kita, apalagi dengan smartphone. Anak kecil sekarang sudah cerdas,” tegasnya.
Rusdi menilai penggunaan gawai tanpa pengawasan dapat berdampak pada menurunnya minat belajar sekaligus mengganggu tumbuh kembang anak, terutama dari sisi psikologis. Karena itu, ia mengimbau orang tua untuk membatasi durasi penggunaan ponsel serta aktif mendampingi anak saat mengakses internet.
“Terkadang ketika anak-anak melihat YouTube, kalau tidak diawasi ada konten yang tidak sesuai. Itu harus dijaga. Sebab usia dini merupakan usia yang sangat krusial. Orang tua jangan hanya memasrahkan pendidikan kepada guru di sekolah. Pendidikan terbaik adalah teladan dari orang tua sendiri,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : -
