Surabaya – Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur Muhammad Arbayanto menilai kebijakan Pemerintah yang memberikan subsidi untuk kebutuhan pokok akan memperkuat daya saing Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Menurutnya, koperasi akan lebih kompetitif apabila menjual produk-produk bersubsidi yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.
“Produk-produk bersubsidi seperti minyak goreng, gula, hingga elpiji memiliki pangsa pasar yang jelas dan dibutuhkan masyarakat setiap hari,” ujarnya.
Arbayanto menyampaikan bahwa keberadaan KDMP dapat memberikan manfaat nyata tanpa harus berhadapan secara langsung dengan pola bisnis ritel modern.
“Kalau yang dijual adalah produk-produk bersubsidi, itu masuk akal. KDMP bisa bersaing dengan yang lain. Tetapi kalau produknya bersifat umum, akan berat bersaing dengan warung maupun toko ritel yang sudah lebih dulu berkembang,” kata Arbayanto di DPRD Jawa Timur, Jumat (18/7/2026).
Politikus Partai Demokrat itu menilai strategi bisnis KDMP harus difokuskan pada distribusi barang-barang yang berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat.
“Koperasi memiliki peran yang jelas sebagai penyalur barang kebutuhan pokok sekaligus memperkuat perekonomian desa,” jelas Arbayanto.
“Produk seperti minyak goreng, gula, LPG, dan kebutuhan pokok lain yang memperoleh dukungan pemerintah merupakan segmen pasar yang paling tepat untuk dikelola KDMP,” tambahnya.
Selain itu, Arbayanto juga menanggapi wacana penutupan minimarket modern seperti Alfamart dan Indomaret demi mendukung keberadaan KDMP. Menurutnya, gagasan tersebut tidak relevan karena memiliki segmentasi pasar yang berbeda.
“Kalau kemudian ada usulan menutup Alfamart dan Indomaret, bagi saya tidak relevan. Itu salah market. Yang harus dilakukan arana memperkuat fungsi KDMP sesuai peruntukannya, bukan membatasi pelaku usaha lain,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyambut baik kebijakan pemerintah yang memberikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bagi nelayan. Arbayanto menilai kebijakan tersebut akan membantu menekan biaya produksi sehingga aktivitas melaut menjadi lebih efisien.
“Kalau memang diperuntukkan bagi nelayan sebagai penunjang produksi, tentu itu kebijakan yang tepat. Yang penting penyalurannya tepat sasaran kepada penerima manfaat,” imbuhnya.
Arbayanto menuturkan bahwa selama ini biaya operasional nelayan cukup tinggi, terutama akibat kebutuhan bahan bakar untuk menjangkau daerah penangkapan ikan yang semakin jauh.
“Dengan adanya subsidi solar, beban biaya tersebut dapat berkurang sehingga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan nelayan di Jawa Timur,” pungkasnya.
Penulis : Nama Penulis Anda
Editor : Syaiful Hidayat
