OTT Bupati Tulungagung, Ashraf Logika: Kekuasaan Dipertukarkan dengan Keuntungan

- Publisher

Minggu, 12 April 2026 - 19:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengamat LKSP Jawa Timur Bambang Ashraf HS. (Foto: Istimewa)

Pengamat LKSP Jawa Timur Bambang Ashraf HS. (Foto: Istimewa)

Surabaya – Pengamat LKSP Jawa Timur Bambang Ashraf HS mengatakan operasi tangkap tangan (OTT) yang kembali dilakukan oleh KPK terhadap Bupati Tulungagung. Menurutnya, praktik korupsi di tingkat daerah masih berputar pada pola yang sama.

“Penyalahgunaan kewenangan untuk memperoleh keuntungan pribadi maupun kelompok,” ujar Ashraf kepada Digitaljatim.com, Minggu (12/4/2026).

Berdasarkan informasi awal, Ashraf menjelaskan OTT tersebut mengamankan lebih dari sepuluh orang, termasuk kepala daerah dan pihak-pihak yang memiliki keterkaitan langsung dalam lingkar kekuasaan.

“Barang bukti berupa uang tunai ratusan juta rupiah semakin menguatkan dugaan bahwa telah terjadi transaksi yang tidak sah, yang beririsan langsung dengan kewenangan jabatan,” jelasnya.

Ia pun menegaskan perlunya digarisbawahi bukan sekadar nilai uang atau siapa yang terlibat. Ashraf menekankan pentingnya pola kembali terulang yaitu abouse of authority ke exchange of benefit (quid pro quo).

“Ini adalah bentuk paling klasik sekaligus paling berbahaya dalam praktik korupsi. Ketika kekuasaan tidak lagi digunakan untuk pelayanan publik, melainkan menjadi alat tawar-menawar kepentingan,” tegasnya.

Dalam konteks ini, ia pun mengungkapkan jabatan publik berubah fungsi menjadi komoditas. Menurutnya, keputusan yang seharusnya berbasis kepentingan masyarakat, justru dikalkulasikan berdasarkan imbal balik yang diterima.

“Relasi antara pejabat dan pihak eksternal bukan lagi relasi administratif, melainkan relasi transaksional,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ditarik lebih dalam, fenomena ini menunjukkan ada tiga problem struktural. Diantaranya adalah pertama, lemahnya integritas dalam tata kelola pemerintahan daerah. Sistem yang seharusnya menjadi pagar, justru seringkali menjadi alat yang bisa dinegosiasikan.

“Kedua, adanya pembiaran terhadap pola relasi kuasa yang tidak sehat. Ketika praktik balas jasa dianggap wajar, maka korupsi tidak lagi dilihat sebagai kejahatan, melainkan sebagai mekanisme informal,” jelas Dewan Pakar DPW LIRA Jawa Timur.

BACA JUGA  Jemaah Haji Kloter I Tiba di Surabaya, Gubernur Khofifah Apresiasi Inovasi Seamless Process Corridor

Ketiga, kata Ashraf, kegagalan dalam membangun sistem pencegahan yang efektif. “OTT yang berulang dengan pola yang sama menunjukkan bahwa efek jera belum bekerja secara maksimal,” terangnya.

Dari perspektif hukum, ia menjelaskan kasus ini berpotensi masuk dalam kategori pemerasan oleh pejabat negara atau penerimaan suap dan gratifikasi.

“Secara substansi, persoalan utamanya tetap sama: adanya pertukaran kepentingan antara kewenangan publik dan keuntungan privat,” jelas Ashraf.

Ashraf memandang kasus ini harus dijadikan momentum untuk mendorong yang lebih sistemik, bukan sekadar penindakan individu.

“Penegakan hukum memang penting, tetapi tanpa pembenahan struktur dan budaya birokrasi, maka kasus serupa hanya akan berulang dengan aktor yang berbeda,” tukas Pegiat Anti Korupsi.

Lebih jauh, masyarakat juga perlu didorong untuk memahami bahwa korupsi bukan hanya tentang pelanggaran hukum, tetapi tentang pengkhianatan terhadap mandat publik.

“Setiap rupiah yang ditransaksikan secara ilegal adalah bentuk penggerusan terhadap kepercayaan rakyat,” tutur Ashraf.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa OTT di Tulungagung ini kembali mengingatkan kita bahwa korupsi di daerah bukan persoalan baru, melainkan persoalan yang terus dipelihara oleh sistem yang permisif.

“Selama kekuasaan masih dipertukarkan dengan keuntungan, maka korupsi akan selalu menemukan jalannya,” tutur dia.

“Dan selama itu pula, perjuangan melawan korupsi tidak boleh berhenti hanya pada penangkapan, tetapi harus berlanjut pada pembongkaran akar masalahnya,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor : Yoyok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Evaluasi Haji 2026, Anggota DPD RI Lia Istifhama Tekankan Pembenahan Mina dan Apresiasi Petugas
Peringati HUT Ke-733 Surabaya, Lilik DPRD Jatim Soroti Pentingnya Pemerataan Infrastruktur di Wilayah Pinggiran
Anak Muda Aset Bangsa, Dhamroni DPRD Sidoarjo Dorong Penguatan Nilai Pancasila di Era Digital
Senator Lia Istifhama Soroti Pentingnya Solidaritas Jamaah Saat Puncak Armuzna Berlangsung
Soroti Wukuf 2026 Yang Lebih Tertib, Senator Lia Istifhama Puji Pelayanan Haji di Arafah
Lilik DPRD Jatim Terima Keluhan Warga Kedungbaruk soal Casbar Bangkok Crab, Izin Usaha Jadi Sorotan
23 Kades Petahana Tumbang di Sidoarjo, Pengamat Politik Nanang Haromain: Warga Desa Kini Cepat Berubah Haluan
Sambut Iduladha, Wawali Elim Ingatkan Pentingnya Berbagi dan Peduli Sesama

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 09:41 WIB

Evaluasi Haji 2026, Anggota DPD RI Lia Istifhama Tekankan Pembenahan Mina dan Apresiasi Petugas

Senin, 1 Juni 2026 - 17:22 WIB

Peringati HUT Ke-733 Surabaya, Lilik DPRD Jatim Soroti Pentingnya Pemerataan Infrastruktur di Wilayah Pinggiran

Senin, 1 Juni 2026 - 08:51 WIB

Anak Muda Aset Bangsa, Dhamroni DPRD Sidoarjo Dorong Penguatan Nilai Pancasila di Era Digital

Kamis, 28 Mei 2026 - 21:15 WIB

Senator Lia Istifhama Soroti Pentingnya Solidaritas Jamaah Saat Puncak Armuzna Berlangsung

Kamis, 28 Mei 2026 - 12:32 WIB

Soroti Wukuf 2026 Yang Lebih Tertib, Senator Lia Istifhama Puji Pelayanan Haji di Arafah

Berita Terbaru

Semangat belajar dan berbagi ide baru terasa begitu hangat dalam kegiatan bertajuk Nobar Canva yang diselenggarakan oleh Canva Community di Cafe and Resto Ningrat, Jalan Kedung Sari No.10, Mergelo, Gununggedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. (Foto: Istimewa)

Citizen Reporter

Nobar Canva Penuh Inspirasi Baru

Senin, 1 Jun 2026 - 21:45 WIB