Malang – Upaya mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah. Keluarga memiliki peran yang sangat menentukan dalam membentuk karakter anak sejak usia dini. Pesan inilah yang disampaikan Dr. Hj. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.I., M.E.I., Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Jawa Timur, saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Musyawarah Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Timur di BBPPMPV BOE Malang.
“Lawan Kekerasan: Keluarga dan Lingkungan Pendidikan”, Senator nasional Lia menjelaskan bahwa keluarga merupakan ruang pertama bagi anak untuk belajar nilai, etika, empati, dan cara menghargai sesama.
Menurutnya, komunikasi yang sehat, kasih sayang, dan keteladanan orang tua menjadi benteng paling kuat dalam mencegah munculnya perilaku kekerasan di lingkungan masyarakat maupun sekolah.
“Pencegahan kekerasan harus dimulai dari rumah. Ketika keluarga mampu menghadirkan kasih sayang, komunikasi yang terbuka, dan keteladanan yang baik, anak akan tumbuh dengan karakter yang kuat, penuh empati, dan menghargai orang lain,” ujar Lia, pada Sabtu (04/7/2026).
Lia menjelaskan bahwa keluarga merupakan sumber utama pembentukan nilai dan perilaku anak melalui proses modelling atau keteladanan.
Anak tidak hanya belajar dari apa yang didengar, tetapi juga dari apa yang setiap hari dilihat dan dirasakan di rumah.
Karena itu, orang tua diharapkan mampu menunjukkan sikap saling menghormati, menyelesaikan konflik secara bijaksana, dan membangun komunikasi yang positif agar menjadi contoh bagi anak-anaknya.
“Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari teladan yang diberikan setiap hari. Ketika keluarga menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian, maka karakter tersebut akan terbawa hingga mereka hidup bermasyarakat,” tutur Lia dalam keterangannya, Rabu (8/7/2026).
Dalam paparannya, Lia menekankan bahwa pendidikan memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar menyampaikan ilmu pengetahuan.
Menurutnya, sekolah harus menjadi tempat yang membangun cara berpikir kritis, menanamkan empati, menghargai keberagaman, serta membiasakan penyelesaian konflik secara damai.
Pendidikan karakter, pendidikan kesetaraan, hingga pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif.
“Pendidikan yang baik bukan hanya melahirkan generasi cerdas, tetapi juga manusia yang memiliki hati nurani, mampu menghormati perbedaan, dan berani menolak segala bentuk kekerasan,” kata Lia Istifhama.
Lia juga mengajak para pelajar memahami bahwa tujuan pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik.
Mengutip nilai-nilai yang berkembang dalam tradisi keilmuan Islam, ia menjelaskan bahwa ilmu harus memberikan manfaat bagi kehidupan, memperkuat akhlak, serta mendorong seseorang untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Menurutnya, pendidikan yang berkualitas akan melahirkan generasi yang mampu berpikir rasional, memiliki integritas, serta siap menghadapi tantangan zaman.
“Ilmu akan bernilai ketika digunakan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama. Pendidikan harus melahirkan manusia yang cerdas, berakhlak, dan mampu menjadi solusi bagi persoalan di masyarakat,” ungkap Lia.
Selain membahas keluarga dan pendidikan, Lia mengajak seluruh peserta membangun kapasitas diri agar menjadi pribadi yang tangguh sekaligus humanis.
Ia menjelaskan bahwa generasi muda perlu memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, berani mengambil keputusan secara bijaksana, memiliki empati, mampu bekerja sama, serta bertanggung jawab terhadap setiap tindakan.
Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting dalam menghadapi perkembangan teknologi, tantangan sosial, maupun dinamika kehidupan di masa depan.
“Generasi yang tangguh bukan hanya mereka yang cerdas secara akademik, tetapi juga mampu menjaga integritas, memiliki empati, menghormati sesama, dan menjadikan nilai kemanusiaan sebagai dasar dalam setiap tindakan,” ujar Lia.
Seminar Nasional yang menjadi bagian dari rangkaian Musyawarah Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Timur ini diharapkan mampu memperkuat peran pelajar sebagai agen perubahan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Melalui materi mengenai pencegahan kekerasan, penguatan peran keluarga, pendidikan karakter, serta pembangunan resiliensi, peserta memperoleh bekal untuk menciptakan budaya belajar yang aman, inklusif, dan penuh kepedulian.
Semangat tersebut diharapkan melahirkan kader-kader pelajar Muhammadiyah yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan, integritas, empati, serta semangat gotong royong dalam membangun peradaban yang lebih bermartabat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Penulis : Syaiful Hidayat
Editor : Yoyok











