Tak Semua Masalah Perlu Nasihat, Kadang Hanya Perlu Ruang

- Reporter

Kamis, 19 Februari 2026 - 11:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mohamad Azril Aizar, Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Negeri Surabaya. (Foto : Istimewa)

Mohamad Azril Aizar, Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Negeri Surabaya. (Foto : Istimewa)

Oleh Mohamad Azril Aizar *)

Pernahkah kalian merasa lelah dengan suara bising di sekitar Anda? Atau pernahkah kalian merasakan burnout terhadap kemacetan yang sangat padat dan suara bising dari sekitar kalian selama bermenit menit di tengah tengah kemacetan yang tak kunjung usai.

Akhir-akhir ini banyak orang yang mengalami “stuck” atau terjebak dalam kebiasaan sehari hari kita. Kita merasa terjebak rutinitas, terjebak dalam layar ponsel, terjebak di tengah tengah kota padat dan panas, hingga terjebak dalam alur dalam diri kita sendiri. Sebagai orang yang baru mulai belajar psikologi, saya sering bertanya-tanya terhadap diri sendiri: kenapa ya, kita merasa “tercekik” meskipun secara fisik kita punya kebebasan untuk pergi kemana saya?.

Ternyata, perasaan “stuck” itu bukan sekadar drama atau kelelahan biasa. Fenomena ini sebenarnya memiliki dasar ilmiah yang berkaitan dengan cara otak kita menuntut stimulasi, kecenderungan kita untuk cepat merasa terbiasa dengan kenyamanan, serta kondisi lingkungan yang kian padat sehingga merampas rasa kendali atas diri kita sendiri. Ketiga sudut pandang psikologis inilah yang akan membantu kita memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam kepala kita.

Jebakan Stimulasi Digital

Mari melihat bagaimana otak kita bekerja dalam mengatur energi dan fokus. Dalam psikologi dikenal theory of arousal, yang menjelaskan bahwa manusia membutuhkan tingkat rangsangan yang seimbang agar merasa nyaman dan optimal.

Di era digital, khususnya pada Gen Z, keseimbangan ini sering terganggu. Saat kita bosan, kita mencari rangsangan lewat doomscrolling karena arousal terlalu rendah. Namun tanpa disadari, paparan informasi yang berlebihan justru mendorong arousal ke tingkat terlalu tinggi dan memicu kecemasan. Ketidakseimbangan ini membuat kita berasa dalam kondisi serta tanggung: merasa lelah tapi sulit berhenti, merasa bosan tapi tak tahu harus melakukan apa. Akibatnya, muncul perasaan terjebak dalam rutinitas mental yang melelahkan.

Kenikmatan yang Cepat Pudar

Pernahkah kamu merasa sangat antusias saat merencanakan sesi healing ke tempat wisata yang ramai dan viral, namun ketika sampai disana, rasa senangnya hanya bertahan sebentar sebelum akhirnya terasa biasa saja? Fenomena ini dijelaskan oleh adaptation level theory.

Otak kita punya kemampuan adaptasi yang luar biasa cepat. Masalahnya, begitu kita mencapau standar kenyamanan baru, standar itu langsung menjadi “titik nol” atau normal yang baru. Kita butuh hal yang lebih besar lagi untuk merasa senang. Inilah alasan kenapa isu gaya hidup konsumtif saat ini membuat kita sulit merasa puas. Kita terus berlari di atas treadmill kebahagiaan, tapi tidak pernah sampai kemana-mana.

Dunia yang Makin Sempit

Inilah bagian yang paling terasa saat kita bicara soal isu lingkungan. Behavioral Constraint terjadi ketika lingkungan membatasi apa yang ingin kita lakukan.

Bayangkan kota yang makin padat, ruang terbuka hijau yang makin sedikit, atau polusi udara yang membuat kita tidak bisa sekedar jalan kaki dengan tenang. Saat lingkungan fisik membatasi pilihan kita, psikologis kita merasa kehilangan kendali. Inilah “space” yang sebenarnya kita butuhkan. Bukan sekadar menyendiri, tapi lingkungan yang memberi kita kendali dan kebebasan untuk bergerak dan bernapas.

Menciptakan “Space” untuk Diri Sendiri

Eksplorasi terhadap teori-teori ini menyadarkan saya bahwa perasaan “stuck” bukan sekedar hambatan emosional, melainkan sinyal alarm dari diri kita untuk segera melakukan evaluasi. Memahami hal ini memberikan kita kesempatan untuk mengambil langkah-langkah kecil guna memulihkan keseimbangan mental. Kita bisa memulainya dengan mengatur ulang stimulasi yang masuk ke otak, yakni dengan sesekali menjauh dari layar ponsel dan mencari interaksi nyata yang lebih bermakna, selain itu, penting bagi kita mengejar kebahagiaan semu tanpa henti.

Langkah yang tidak kalah krusial adalah dengan mencoba menciptakan ruang kendali di lingkungan terdekat kita. Meskipun kita tidak bisa secara instan mengubah kepadatan kota atau polusi udara, hal-hal sederhana seperti merapikan sudut kamar atau meluangkan waktu sejenak di taman kota dapat membantu mengurangi tekanan batin yang kita rasakan. Pada akhirnya, memahami mengapa kita merasa terjebak adalah langkah pertama yang paling bermakna untuk kembali memegang kendali atas hidup kita sendiri di tengah dunia yang semakin membatasi.

*) Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Negeri Surabaya

Editor : Syaiful Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Memang Bukan Bangsa Perang
Kajian Silsilah Keturunan Sunan Ampel dalam Kepemimpinan Nasional RI : Dari Soekarno hingga Mahfud MD
Kelas Menengah Tergerus dan Dampaknya Bagi Ekonomi Indonesia 2026
​I Hate Roblox
​Merawat Integritas Pers di Tengah Arus Algoritma dan AI

Berita Terkait

Senin, 2 Maret 2026 - 11:01 WIB

Indonesia Memang Bukan Bangsa Perang

Sabtu, 28 Februari 2026 - 17:40 WIB

Kajian Silsilah Keturunan Sunan Ampel dalam Kepemimpinan Nasional RI : Dari Soekarno hingga Mahfud MD

Minggu, 22 Februari 2026 - 20:30 WIB

Kelas Menengah Tergerus dan Dampaknya Bagi Ekonomi Indonesia 2026

Kamis, 19 Februari 2026 - 11:38 WIB

Tak Semua Masalah Perlu Nasihat, Kadang Hanya Perlu Ruang

Rabu, 18 Februari 2026 - 21:00 WIB

​I Hate Roblox

Berita Terbaru