DigitalJatim.com – Pengamat Geopolitik Yoyok mengatakan nuklir ekonomi Iran ini bisa menghancurkan infrastuktur energi teluk Persia. Menurutnya, pasar minyak terguncang pada tanggal 2 Maret setelah serangan drone menutup kilang terbesar Arab Saudi dan Kurdistan Irak menghentikan produksi ditengah konflik yang semakin memburuk.
“Bagaimana krisis ini bisa meningkat dari sini? Selat hormuz. Sekitar 20 juta barel minyak per hari mengalir melalui selat tersebut. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara efektif telah menutup jalur air tersebut,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Yoyok menjelaskan bahwa ratusan kapal tanker, termasuk kapal minyak mentah dan LNG, telah berlabuh di wilayah tersebut.
“Pipa Timur-Barat Saudi Aramco dapat mengalihkan hingga 5 juta barel per hari dari Teluk ke Yanbu di Laut Merah, melewati Hormuz. Namun, kapasitas cadangan saat ini hanya sekitar 2,4 juta barel/hari,” jelasnya.
Lebih lanjut, Yoyok mengungkapkan terminal Yanbu berada dalam jangkauan drone dan rudal Ansar Allah Yaman.
“UEA dapat mengalihkan setengah dari ekspor Teluknya sebesar 2 juta barel per hari ke Fujairah, melewati Hormuz, tetapi sekitar 1 juta barel per hari akan tetap terhenti Infrastruktur minyak Teluk diserang,” ungkapnya.
Kilang Ras Tanura Arab Saudi, kata Yoyok, salah satu yang terbesar di dunia dengan kapasitas lebih dari 500.000 barel per hari, telah terkena serangan dan ditutup sementara.
“Kilang Ahmadi Kuwait mengalami kerusakan, tetapi tetap beroperasi. Dua lokasi energi Qatar juga telah diserang. Kawasan Teluk Arab Saudi, Iran, Irak, UEA, Kuwait, Qatar menghasilkan lebih dari 20 juta barel per hari, sekitar 25% dari produksi minyak mentah global,” kata dia.
“Jika serangan terhadap fasilitas produksi minyak di Teluk terus berlanjut dan Selat Hormuz tetap terblokir, harga minyak bisa meroket. Seberapa jauh harga bisa naik? Analis mengatakan minyak mentah Brent bisa mencapai $100 per barel, atau bahkan $120-$130 jika ekspor teluk dipangkas,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa dampak ekonomi yang luas dua lokasi energi Qatar juga telah diserang. Yoyok menilai kawasan Teluk Arab Saudi, Iran, Irak, UEA, Kuwait, Qatar menghasilkan lebih dari 20 juta barel per hari, sekitar 25% dari produksi minyak mentah global.
“Jika serangan terhadap fasilitas produksi minyak di Teluk terus berlanjut dan biaya bensin dan energi yang lebih tinggi secara global,” ungkapnya.
Menurut dia, tekanan inflasi di negara-negara pengimpor minyak. Pelepasan cadangan minyak strategis oleh negara-negara konsumen utama.
“Apa artinya ini bagi Trump dan Eropa? Lonjakan harga minyak hingga $120/bbl akan menjadi angsa hitam’ bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu yang beresiko menyebabkan konggres dkendalikan oleh partai Demokrat jika partainya kalah,” tuturnya.
“Strategi AS untuk tahun 2026 dibangun diatas harga minyak $60 bbl, lonjakan harga hingga $120 dapat memaksa penggunaan SPR,” tambah dia.
Lebih lanjut, ia mejelaskan Cadangan Minyak Strategis) Eropa yang sekarang bergantung pada AS, Norwegia dan Kazakhstan untuk minyak (dan dalam skala yang lebih kecil kepada Arab Saudi dan Irak) dapat mengalami inflasi yang melonjak dan pertumbuhan PDB akan lebih lambat pada harga $12.
“Gangguan pasokan dari Teluk juga akan memperdalam ketergantungan Eropa pada energi AS,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat











