Disinformasi Digital dan Rendahnya Budaya Verifikasi

Belum ada data penulis & editor

- Author

Sabtu, 9 Mei 2026 - 04:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis buku dan jurnalis Syaiful Hidayat.

Penulis buku dan jurnalis Syaiful Hidayat.

Oleh. Syaiful Hidayat *)

Di era digital saat ini, masyarakat Indonesia dihadapkan pada arus informasi yang sangat cepat. Perkembangan teknologi membuat penyebaran informasi menjadi lebih mudah dan luas dibandingkan pada zaman dahulu. Jika dulu masyarakat hanya mengandalkan koran sebagai sumber utama informasi, kini berita dan berbagai konten dapat diakses hanya melalui telepon genggam dan media sosial (medsos).

Perubahan tersebut membawa dampak positif sekaligus negatif. Di satu sisi, masyarakat dapat memperoleh informasi dengan cepat dan praktis. Namun, di sisi lain, banyak pula informasi yang mengandung disinformasi, hoaks, hingga ujaran kebencian yang mudah tersebar di berbagai platform digital.

Fenomena ini membuat sebagian masyarakat sering kali menerima informasi secara mentah tanpa memahami isi dan substansi yang sebenarnya. Tidak sedikit orang langsung mempercayai suatu informasi hanya karena banyak dibagikan atau viral di media sosial, padahal kebenarannya belum tentu dapat dipastikan sepenuhnya.

Disinformasi umumnya muncul karena kurangnya pemahaman terhadap isi informasi yang diterima. Selain itu, minimnya kebiasaan untuk memverifikasi sumber berita juga menjadi penyebab utama masyarakat mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan. Oleh karena itu, kemampuan dalam menyaring informasi menjadi hal yang sangat penting di era digitalisasi seperti sekarang.

Masyarakat harus lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan memahami ciri-ciri informasi yang benar. Informasi yang faktual biasanya berasal dari sumber terpercaya, memiliki data yang jelas, serta dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, informasi yang hanya bertujuan mencari sensasi umumnya memuat judul provokatif, tidak memiliki sumber yang jelas, dan memancing emosi pembaca.

Dengan meningkatnya literasi digital, masyarakat diharapkan mampu membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan. Sikap kritis dalam membaca dan membagikan informasi menjadi langkah penting agar ruang digital tetap sehat, aman, dan bermanfaat bagi semua pihak.

BACA JUGA  Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029

*) Syaiful Hidayat, S.Pd, penulis adalah seorang penulis buku “Di Balik Pintu Biru: Mozaik Kisah dari Catatan Harian” dan Owner Digitaljatim.com

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029
Teori Pohon Khidmat NU
Gus Kikin Pimpin NU, Ning Lia Menangkap Pesan Besar dari Tambakberas
Catatan Asyik dari Muktamar ke-35 NU
Menakar Bobot Politik NU di Balik Fenomena “Mendadak NU”
Diaspora Madura Menggagas Studi Tiru ke Maldives
Getaran Nasionalisme dalam Haul Khotib Parangghan Sumenep
Transformasi Petani di Tengah Sengatan Konflik Global
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 17:29 WIB

Aktivis Jatim Mematangkan Nama-nama Kader NU untuk Pilgub 2029

Jumat, 4 September 2026 - 05:23 WIB

Teori Pohon Khidmat NU

Rabu, 2 September 2026 - 11:40 WIB

Gus Kikin Pimpin NU, Ning Lia Menangkap Pesan Besar dari Tambakberas

Selasa, 1 September 2026 - 20:33 WIB

Catatan Asyik dari Muktamar ke-35 NU

Selasa, 25 Agustus 2026 - 21:20 WIB

Menakar Bobot Politik NU di Balik Fenomena “Mendadak NU”

Berita Terbaru

WhatsApp