Gresik – Pasar Ramadan ini merupakan akumulasi dari keinginan warga yang ingin memiliki wadah ekonomi mandiri di lingkungan perumahan ini. Hal inilah, menginisiasi membangun program Paguyuban UMKM Berdaya RW 09 Sejahtera.
Hal ini disampaikan oleh Ketua RW 09 Menganti Permai, Riawan Syamsir saat diwawancarai wartawan digitalJatim, usai peresmian Pasar Ramadan, Senin (24/2/2026).
“Kenapa kita adakan Pasar Ramadan ini? sebenarnya ini akumulasi dari keinginan warga Menganti Permai sendiri. Akhirnya, kita fasilitasi dan terjadilah seperti ini. Hari ini pembukaan dan kita adakan selama dua Minggu sampai tanggal 9 Maret 2026,” ujar Rey sapaan akrabnya.
Menurut Rey, antusiasme pelaku UMKM cukup tinggi. Dari 60 pendaftar, panitia terpaksa membatasi hanya 40 stand/tenan karena keterbatasan lokasi.
“Terus terang untuk kegiatan ini perdana mendapat perhatian yang bagus sekali dari UMKM di Kecamatan Menganti. Dari 60 yang sudah daftar bahkan kita stop, karena tempat hanya cukup untuk 40 stand. Kalau tidak kita stop, bisa masuk ke rumah-rumah warga,” katanya.
Ia pun mengakui kegiatan ini terinspirasi dari konsep pasar murah yang digelar Pemprov Jatim. Pihaknya bahkan telah bersurat ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Diperindag) Jatim untuk meminta dukungan dan berharap ada respon positif, demi pengembangan ekonomi warga lokal.
“Kami berharap bisa menjadi manfaat buat warga Menganti Permai khususnya, dan warga kelurahan Hulaan pada umumnya,” tambah dia.
Rey menegaskan Pasar Ramadan ini bukan hanya kegiatan musiman. Kegiatan tersebut menjadi uji coba (trial) untuk pengembangan program ekonomi warga ke depan.
“Ini trial dari kami selaku Ketua RW. Saya melihat ada potensi lahan yang bisa kita kelola. Alhamdulillah, pihak developer juga memberikan izin ruang yang cukup luas agar RW bisa berekspresi untuk kegiatan warga,” ungkapnya.
Bersamaan dengan itu, RW 09 juga baru meluncurkan Paguyuban UMKM sebagai wadah resmi pemberdayaan ekonomi. Tidak hanya untuk warga RW 09, paguyuban ini diharapkan bisa menjangkau UMKM se-Kecamatan Menganti.
“UMKM di Menganti sebenarnya sudah ada, cuma kurang pengarahan. Ini kita launching paguyuban UMKM di RW 9. Insyaallah bukan hanya menaungi RW 9, tapi bisa sampai Kecamatan Menganti,” tandas dia.
Ke depan, pihaknya juga berencana menyinergikan program tersebut dengan Koperasi Desa Merah Putih sebagai bentuk dukungan terhadap program pemberdayaan masyarakat.
Di era digital, Rey mengakui banyak pelaku UMKM masih berjualan secara konvensional. Karena itu, RW 09 berencana menggelar pelatihan digital marketing agar pelaku usaha mampu bersaing.
“Digital ini memang perlu kita sosialisasikan. Sudah banyak UMKM di Surabaya yang berhasil dengan sistem digital. Nanti kita adopsi dan akan ada pelatihan bagaimana cara menjual online kepada para UMKM di Kecamatan Menganti,” katanya.
Ia berharap warga yang belum memiliki keterampilan bisa difasilitasi agar memiliki keahlian dan mampu menghasilkan produk yang kompetitif.
“Yang tidak berdaya akan kita berdayakan dengan program UMKM seperti ini. Kita mitigasi apa keahlian mereka. Kalau belum punya keahlian, akan kita fasilitasi supaya bisa bersaing,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ia juga menanggapi satu tahun kepemimpinan Gubernur Jawa Timur periode kedua, Khofifah Indar Parawansa. Rey menilai program penguatan UMKM yang dijalankan Pemprov Jatim semakin terasa dampaknya.
“Saya kira apa yang sudah dilakukan beliau di periode kedua ini tinggal melanjutkan dari periode pertama, tapi lebih membumi dan dipertajam lagi. Beberapa UMKM di luar lingkungan kami merasakan ada peningkatan daya saing dan penjualan,” ujarnya.
Ia berharap program penguatan UMKM dari tingkat provinsi bisa terus diaktualisasikan hingga level kabupaten dan desa, termasuk menghadirkan program pasar murah yang selama ini belum menyentuh wilayahnya.
“Kalau memang pemerintah desa kurang respons, saya akan tembus langsung ke dinas di Provinsi Jawa Timur. Ini demi pemberdayaan warga,” harap Rey.
Di tengah persaingan UMKM yang semakin ketat, ia berpesan agar pelaku usaha tidak patah semangat dan terus meningkatkan kapasitas diri.
“Tantangannya besar karena banyak UMKM baru bermunculan. Tapi jangan patah hati. Kita harus terus upgrade pengetahuan agar produk kita punya daya saing dan trennya tetap bergerak maju,” pungkasnya.
Penulis : Syaiful Hidayat











