Surabaya – Ramadan kerap dimaknai sebagai bulan penguatan spiritual. Namun di tangan generasi muda yang peduli, bulan suci juga menjadi ruang pemberdayaan sosial yang konkret. Di Kecamatan Tandes, Surabaya, semangat itu diwujudkan melalui kegiatan bertajuk Satu Hari Berbagi, Sejuta Harapan.
Kegiatan yang digagas perwakilan Food Hope Indonesia, Lorenzo Anson Poedijono digelar di Yayasan Panti Asuhan Amanah Insan, Sabtu (28/2/2026) menjelang waktu berbuka puasa. Tak sekadar membagikan santapan berbuka, kegiatan ini juga menghadirkan edukasi gizi bagi anak-anak panti.
Langkah tersebut dinilai relevan di tengah tantangan kesehatan anak Indonesia yang masih menghadapi persoalan pola konsumsi tidak seimbang. Lorenzo menegaskan, berbagi makanan tanpa diiringi edukasi hanya memberi dampak sementara. Karena itu, ia memadukan kebersamaan berbuka dengan pembelajaran praktis tentang nutrisi.
“Hari ini kita ingin berbagi makanan untuk berbuka bersama, bermain bersama, dan bahagia bersama. Tapi yang terpenting, anak-anak memahami mengapa tubuh mereka membutuhkan sayur, buah, protein, karbohidrat, vitamin, dan air agar bisa tumbuh kuat dan sehat,” ujar Lorenzo.
Dalam sesi edukasi yang berlangsung interaktif, Lorenzo menjelaskan fungsi protein untuk pertumbuhan otot dan jaringan tubuh, karbohidrat sebagai sumber energi, vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh, serta pentingnya serat dari sayur dan buah bagi metabolisme.
Ia menekankan, kebiasaan makan sehat sejak usia dini berpengaruh langsung terhadap produktivitas dan kualitas hidup di masa depan.
Pemilihan Panti Asuhan Amanah Insan disebut bukan hanya pertimbangan geografis, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap kebutuhan gizi anak-anak yang masih memerlukan perhatian. Lorenzo mengaku sempat berdialog dengan sejumlah anak yang menyampaikan keinginan sederhana: menjadi kuat dan sehat.
“Mereka punya cita-cita besar. Untuk meraihnya, tubuh yang sehat adalah fondasi utama,” tuturnya.
Ketua Yayasan, Lilik Harini Iswati, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan selama ini anak-anak cenderung mengonsumsi makanan seadanya, bahkan kerap berlebihan pada asupan karbohidrat seperti nasi dan mi instan tanpa memahami keseimbangan nutrisi.
“Edukasi seperti ini sangat penting. Penjelasan langsung dengan bahasa sederhana membuat anak-anak lebih mudah memahami mengapa sayur, telur, dan makanan bergizi itu penting,” katanya.
Menurut Lilik, pendekatan komunikatif yang dilakukan Lorenzo lebih efektif karena anak-anak tidak hanya mendengar, tetapi juga berdialog dan memahami secara praktis.
Menjelang Maghrib, suasana kebersamaan semakin terasa. Anak-anak duduk melingkar menanti waktu berbuka dengan wajah ceria. Doa dipanjatkan khidmat, menyatukan rasa syukur dan harapan.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga menebar manfaat. Aksi sosial yang memadukan empati dan edukasi dinilai mampu menumbuhkan kesadaran gizi sejak dini.
Penulis : Bagas
Editor : Syaiful Hidayat











