Bangkalan – Yayasan Gerakan Dualima Indonesia (G25 Indonesia) kembali meneguhkan komitmennya dalam gerakan sosial. Hal itu ditandai dengan kegiatan Launching Spirit Ramadan 2026 yang dirangkai dengan buka puasa bersama di Hotel Ningrat, Bangkalan, Sabtu (7/3/2026).
Dewan Pembina G25 Indonesia, Prof Dr Safi’ SH MH, mengapresiasi konsistensi organisasi tersebut yang telah bergerak di bidang sosial selama tujuh tahun. Menurutnya, tidak mudah bagi sebuah organisasi sosial untuk bertahan dalam waktu yang cukup lama.
“Umumnya lembaga sosial menghadapi masa kritis pada tiga tahun pertama sejak berdiri. Alhamdulillah G25 tidak hanya mampu melewati masa itu, tetapi terus berkembang,” ujarnya, dalam keterangan tertulis, Senin (9/3/2026).
Ia menyebut perkembangan itu terlihat dari meningkatnya jumlah relawan, donatur, hingga penerima manfaat program sosial yang dijalankan G25 Indonesia.
Safi’ menilai gerakan yang diusung G25 menjadi bagian dari upaya masyarakat sipil dalam membantu pemberdayaan ekonomi masyarakat. Terutama di tengah keterbatasan negara dalam menjangkau seluruh kebutuhan sosial masyarakat.
Ia juga menjelaskan filosofi angka 25 pada nama G25. Angka tersebut merujuk pada nilai minimal donasi sebesar Rp25 ribu. Menurutnya, nilai itu diharapkan menjadi gerakan sederhana namun berkelanjutan untuk menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
“Yang terpenting bukan besar kecilnya jumlah, tetapi keikhlasan dalam berbagi. Kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain sejatinya akan kembali kepada diri kita sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum G25 Indonesia Dasuki Rahmad menegaskan seluruh donasi yang masuk dikelola secara transparan. Menurutnya, laporan kegiatan dan penggunaan dana dapat diakses publik melalui media sosial maupun situs resmi G25 Indonesia.
“Laporan kegiatan dan penggunaan dana bisa diakses oleh publik melalui media sosial maupun website resmi G25 Indonesia,” tegasnya.
Dasuki menjelaskan G25 Indonesia memiliki tiga program prioritas, yakni pemberdayaan pendidikan, pemberdayaan ekonomi super mikro, serta program sosial kemanusiaan (social charity).
Pada sektor pendidikan, bantuan diberikan langsung kepada lembaga pendidikan penerima manfaat. Misalnya, pembayaran SPP atau kebutuhan sekolah lainnya dibayarkan langsung ke sekolah agar bantuan tepat sasaran.
“Kalau ada siswa yang kesulitan membayar SPP atau LKS, kami yang datang ke sekolah dan membayarnya. Jadi bantuan tidak diberikan dalam bentuk uang kepada orang tua, tetapi langsung ke lembaga pendidikan,” ujarnya.
Untuk program pemberdayaan ekonomi, bantuan diberikan kepada masyarakat yang memiliki potensi usaha kecil agar dapat mandiri secara ekonomi. Ia juga memastikan seluruh donasi yang masuk disalurkan sepenuhnya kepada penerima manfaat.
“Semua donasi yang masuk adalah donasi tulus untuk masyarakat. Tidak sepeser pun digunakan untuk operasional relawan karena kebutuhan relawan ditanggung secara pribadi,” pungkasnya.
Melalui kegiatan Spirit Ramadan 2026 ini, G25 Indonesia berharap semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam gerakan berbagi, baik sebagai relawan maupun donatur sehingga manfaatnya dapat menjangkau lebih luas.
Editor : Yoyok











