Banyuwangi – Sebanyak 37 siswa kelas IV mengikuti pelatihan mendongeng berbasis literasi digital yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di SDN Bakungan, Banyuwangi, Senin (11/5/2026) lalu.
Pelatihan yang berlangsung selama dua jam itu mendapat sambutan positif dari pihak sekolah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan pemanfaatan teknologi digital secara positif kepada siswa sekolah dasar (SD).
Ketua Tim PKM Unesa, Destynar Aditama mengatakan program tersebut mengajak siswa memanfaatkan platform digital Let’s Read yang menyediakan beragam cerita anak interaktif.
“Melalui media tersebut, para peserta tidak hanya diajak membaca, tetapi juga memahami isi cerita dan menyampaikan kembali cerita yang telah dibaca melalui praktik mendongeng,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (15/5/2026).
Menurut Destynar, kemampuan literasi anak perlu terus dikembangkan seiring kemajuan teknologi digital. Penggunaan platform pembelajaran yang menarik dinilai dapat membantu siswa memahami bacaan sekaligus meningkatkan kemampuan komunikasi.
“Kegiatan storytelling dipilih karena mampu melatih keberanian siswa tampil dan berbicara di depan umum. Dengan metode ini, anak-anak didorong lebih aktif dalam proses pembelajaran,” jelas dosen Sastra Indonesia Unesa tersebut.
Sebelum pelatihan dimulai, tim PKM terlebih dahulu melakukan pretest untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam memahami bacaan dan keterampilan bercerita. Setelah sesi materi dan praktik selesai, siswa kembali mengikuti posttest untuk mengukur peningkatan kemampuan mereka.
Selain Destynar, kegiatan itu juga melibatkan dosen Sastra Indonesia Unesa, Putri Retnosari, yang mendampingi siswa dalam mengembangkan ekspresi dan kreativitas saat mendongeng.
“Sepanjang kegiatan berlangsung, suasana kelas terlihat hidup dan interaktif. Para siswa tampak antusias mencoba platform Let’s Read, aktif bertanya, dan berani tampil di depan kelas untuk membawakan cerita pilihan mereka,” kata Destynar.
Meski demikian, pihaknya mengakui masih terdapat sejumlah kendala selama pelatihan, seperti perbedaan kemampuan membaca antarsiswa dan rasa malu yang dimiliki sebagian peserta.
“Namun, dukungan guru dan pendampingan langsung dari tim membuat siswa perlahan lebih percaya diri mengikuti kegiatan ini,” imbuh dia.
Di akhir kegiatan, tim PKM Unesa membagikan puzzle game edukatif kepada seluruh peserta. Media permainan tersebut diharapkan dapat membantu siswa melatih konsentrasi, kreativitas, dan kemampuan berpikir dengan cara menyenangkan.
Pihak sekolah juga menilai program tersebut memberikan manfaat positif, terutama dalam meningkatkan minat baca dan keberanian siswa berbicara di depan umum.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap literasi digital semakin dekat dengan dunia pendidikan dasar dan menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran anak sejak dini,” pungkasnya.
Editor : Yoyok











