DigitalJatim.com – PGN SAKA berkolaborasi dengan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNESA menggelar pelatihan bertajuk Santripreneur Goes Digital: Penguatan Branding Produk Santri Berbasis E-Commerce di Pondok Pesantren Mamba’ul Ihsan, Ujungpangkah, Gresik, pada 2–4 Februari 2026. Salah satu materi yang menarik perhatian para santri adalah pengenalan budidaya entok jumbo.
Memasuki hari kedua pelatihan, para peserta mulai dikenalkan secara langsung dengan entok jumbo. Tiga narasumber dari Kota Pasuruan yang dikenal sebagai juara berbagai kontes entok jumbo tingkat nasional turut hadir, yakni Mulyono, Patuh, dan Gus Muchtar. Ketiganya merupakan pemilik farm yang telah menghasilkan entok jumbo berkualitas.
Materi dibuka oleh Gus Muchtar yang memaparkan alasan memilih beternak entok jumbo. Menurutnya, entok jumbo memiliki nilai jual tinggi serta daya tahan tubuh yang lebih baik dibanding unggas lainnya.
“Entok jumbo merupakan unggas dengan nilai jual tertinggi dan ketahanan tubuh yang baik dibandingkan unggas lain,” ujarnya.
Ia mencontohkan, harga jual entok jumbo bisa menembus Rp30.000 per kilogram. Selain itu, pertumbuhan entok jumbo juga jauh lebih cepat dibanding entok lokal, bahkan bisa dua hingga tiga kali lipat. Pada usia dua bulan, bobot entok jumbo dapat mencapai 2,5 kilogram, sedangkan entok lokal rata-rata baru mencapai 1 kilogram.
Faktor kandang juga menjadi perhatian dalam budidaya entok jumbo. Patuh menjelaskan desain kandang ideal yang meliputi kandang indukan, starter, dan grower yang harus dipisahkan.
“Antara kandang indukan, starter, dan pembesaran harus terpisah agar indukan tidak mengganggu pertumbuhan entok yang masih muda,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kandang perlu memiliki area basah dan kering agar entok dapat beraktivitas dengan nyaman, termasuk saat kawin dan bermain.
Meski dikenal tahan penyakit, antisipasi tetap diperlukan. Mulyono, pemilik Farm Tya Jaya, menyampaikan pentingnya menyiapkan obat-obatan sebagai langkah pencegahan. Ia lebih memilih menggunakan bahan herbal karena mudah didapat dan minim efek samping.
“Setiap farm harus menyiapkan P3K ternak. Saya pribadi lebih memilih obat herbal,” katanya.
Salah satu peserta, Wahyu Hidayat, mengaku pelatihan ini membuka wawasan baru bagi para santri, terutama dalam mengembangkan potensi ekonomi pesantren.
“Kegiatan ini sangat membantu kami yang selama ini lebih fokus di sektor perikanan karena berada di wilayah pesisir. Sekarang kami punya peluang mengembangkan sektor peternakan, khususnya entok jumbo,” ujarnya.
Ia berharap pelatihan semacam ini dapat terus berlanjut dan memberi dampak positif bagi pesantren serta masyarakat sekitar, sekaligus meningkatkan life skill santri agar mampu menjadi penggerak ekonomi yang berdaya saing.
*) Penulis adalah tim PP AL Muniroh.











