Mikroplastik Ditemukan dalam Darah, Peneliti Ingatkan Ancaman Racun Kimia bagi Manusia

- Reporter

Senin, 9 Maret 2026 - 23:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Surabaya – Ancaman polusi plastik kini tidak hanya mencemari sungai, laut, udara, atau tanah. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahan kimia berbahaya dari plastik telah ditemukan dalam tubuh manusia dan berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan.

Temuan tersebut dipaparkan dalam Seminar “Expose Temuan Bahan Kimia Racun Plastik dalam Darah” yang digelar Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya bekerja sama dengan ECOTON (Ecological Observation and Wetland Conservation), Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang, serta Universitas Bojonegoro.

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Senin (9/3/2026), itu dihadiri peneliti, akademisi, mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, hingga media.

Dalam forum ilmiah tersebut dipresentasikan 14 hasil penelitian terbaru yang mengkaji dampak paparan bahan kimia plastik dan mikroplastik terhadap kesehatan manusia.

Penelitian itu mencakup biomonitoring terhadap pekerja perempuan pengelola sampah yang memiliki risiko tinggi terpapar limbah plastik. Selain itu, terdapat pula studi eksperimental pada hewan uji untuk memahami mekanisme dampak mikroplastik di dalam tubuh.

Hasil penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara paparan bahan kimia aditif plastik seperti bisfenol, ftalat, PFAS, organophosphate flame retardants (OPFR), dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) dengan sejumlah indikator gangguan kesehatan.

Dampak yang diamati antara lain respon inflamasi, perubahan profil sel darah, gangguan metabolisme, hingga potensi peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

Beberapa penelitian eksperimental juga menunjukkan mikroplastik berpotensi memengaruhi berbagai organ tubuh. Paparan mikroplastik polietilena—jenis plastik yang banyak digunakan dalam kantong plastik, kemasan makanan, dan wadah rumah tangga—dilaporkan dapat memicu peradangan jaringan mata, memengaruhi hormon stres, menurunkan fungsi kognitif, menyebabkan perubahan jaringan tulang, serta mengganggu sistem reproduksi.

Peneliti mikroplastik ECOTON, Rafika menjelaskan bahwa bahan kimia berbahaya dari plastik dapat masuk ke tubuh melalui dua mekanisme utama.

BACA JUGA  Talenta Prestasi Murid Jatim 2026 Dimulai, Gubernur Khofifah Dorong Siswa Raih Prestasi Global

“Ftalat adalah salah satu bahan kimia yang banyak ditemukan pada plastik dan digunakan sebagai zat pelentur atau plasticizer. Senyawa ini tidak terikat kuat secara kimia dengan polimer plastik sehingga mudah terlepas ke lingkungan sepanjang siklus hidup produk plastik,” jelasnya.

Menurutnya, plastik yang terpapar panas, sinar matahari, atau mengalami degradasi menjadi mikroplastik akan semakin mudah melepaskan bahan kimia tersebut.

Partikel mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman juga dapat melepaskan kembali bahan kimia berbahaya di dalam saluran pencernaan. Bahkan, mikroorganisme di dalam usus dapat mempercepat proses pelepasan tersebut.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Yudhiakuari Sincihu mengatakan masyarakat perlu mulai menyadari jalur paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika partikel mikroplastik masuk ke tubuh melalui makanan, air minum, atau udara, partikel ini dapat berinteraksi langsung dengan sel dan jaringan,” ujarnya.

Menurutnya, permukaan mikroplastik dapat memicu stres oksidatif dan peradangan kronis pada sel yang menghasilkan reactive oxygen species (ROS).

“Paparan jangka panjang berpotensi merusak DNA, mengganggu mekanisme perbaikan gen, hingga meningkatkan proliferasi sel yang tidak terkontrol. Kondisi ini juga dapat menciptakan lingkungan biologis yang mendukung perkembangan sel kanker,” jelasnya.

Ia menambahkan, penanganan mikroplastik perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengurangan penggunaan plastik sekali pakai hingga penguatan riset dan kebijakan.

“Strateginya bisa melalui penelitian biomarker paparan, studi toksikologi, hingga kebijakan seperti Extended Producer Responsibility (EPR) dan penetapan baku mutu mikroplastik,” tambahnya.

Direktur ECOTON Prigi Arisandi menilai hasil penelitian ini perlu diterjemahkan agar lebih mudah dipahami masyarakat.

“Kami mencoba menerjemahkan bahasa kampus menjadi bahasa kampung, agar masyarakat memahami bahwa masalah plastik bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga kesehatan,” ujarnya.

BACA JUGA  Kolaborasi PPJ dan Kuasa Hukum Bung Taufik & Partners, Halal Bihalal Jadi Ajang Satukan Visi Paguyuban Pasar Jagir

Peneliti mikroplastik ECOTON, Sofi yang mewakili generasi muda, berharap riset dan advokasi ini dapat mendorong masa depan yang lebih sehat.

“Generasi muda berharap adanya toxic-free future, masa depan yang bebas dari bahan kimia berbahaya. Kami ingin hidup dengan makanan, air, dan udara yang lebih aman dari kontaminasi plastik,” katanya.

Selain seminar ilmiah, kegiatan ini juga menghadirkan pameran hasil penelitian yang menampilkan berbagai informasi mengenai dampak plastik terhadap kesehatan manusia serta pentingnya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Laksamana Pertama TNI (Purn) Herjunianto berharap forum ini dapat menjadi ruang dialog lintas sektor.

“Forum ini diharapkan mendorong lahirnya kebijakan perlindungan kesehatan masyarakat dari paparan bahan kimia berbahaya dalam plastik,” pungkasnya.

Editor : Yoyok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel digitaljatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Talenta Prestasi Murid Jatim 2026 Dimulai, Gubernur Khofifah Dorong Siswa Raih Prestasi Global
Educampus Expo 2026: DPD RI Lia Istifhama dan Dindik Jatim Kompak Dorong Siswa Lebih Produktif Tanpa Gadget
SNBP 2026 Diumumkan, Unesa Terima 6.509 Mahasiswa Baru Jalur Prestasi
Jatim Dominasi SNBP Selama 7 Tahun, Khofifah Sebut Bukti Nyata Peningkatan SDM
Atap Tiga Kelas SMKN 1 Ampelgading Ambruk, Puguh DPRD Jatim Desak Dindik Bergerak Cepat
Pembelajaran Tatap Muka Masih Efektif? Lia Istifhama Beberkan Penjelasan dan Panduannya
Gubernur Khofifah Lantik 128 Kepala Sekolah, Dorong Pendidikan Jatim Cetak Generasi Berdaya Saing
Mudik Lebaran Aman! Dinkes Jatim Siapkan 217 Pos Kesehatan dan Layanan PSC 119

Berita Terkait

Minggu, 5 April 2026 - 10:22 WIB

Talenta Prestasi Murid Jatim 2026 Dimulai, Gubernur Khofifah Dorong Siswa Raih Prestasi Global

Kamis, 2 April 2026 - 19:16 WIB

Educampus Expo 2026: DPD RI Lia Istifhama dan Dindik Jatim Kompak Dorong Siswa Lebih Produktif Tanpa Gadget

Rabu, 1 April 2026 - 18:52 WIB

SNBP 2026 Diumumkan, Unesa Terima 6.509 Mahasiswa Baru Jalur Prestasi

Rabu, 1 April 2026 - 11:46 WIB

Jatim Dominasi SNBP Selama 7 Tahun, Khofifah Sebut Bukti Nyata Peningkatan SDM

Senin, 30 Maret 2026 - 16:48 WIB

Atap Tiga Kelas SMKN 1 Ampelgading Ambruk, Puguh DPRD Jatim Desak Dindik Bergerak Cepat

Berita Terbaru